KARYAINDONESIARAYA.COM: “Ini pertemuan ketiga, jadi kami belajar dari pertemuan pertama dan kedua. Di pertemuan pertama kami menang, di pertemuan kedua kami kalah. Kami belajar di mana kekurangan dan kelebihan kami saat melawan mereka,” ungkap Della. Pemain 21 tahun Hanna Ramadini dipercaya sebagai tunggal kedua. Dalam posisi tertinggal, pemain asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu menantang Busanan Ongbumrungphan. Walau usia Hanna lebih tua, secara rangking Busanan lebih baik. Hanna yang kini berada di rangking 63 dunia masih sulit menandingi permainan agresif tunggal 19 dunia itu. Alhasil Hanna tak berkutik dan menyerah dua set langsung dengan skor cukup telak, 8-21, 11-21. “Saya lebih banyak main bertahan, ngga ada serangan balik, saya banyak diserang oleh lawan. Serangan Busanan hari ini memang lagi bagus. Shuttlecock yang dipakai hari ini lebih berat dari yang kemarin, saya kalah dari segi tenaga juga,” ungkap Hanna.
Setelah partai ketiga, kombinasi baru Tiara Rosalia /Anggia Shitta bertemu Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai. Seperti disebutkan di atas laga keduanya berjalan sengit dan Tiara/Anggia nyaris memperpanjang nafas Merah Putih. Namun harapan segenap masyarakat Indonesia belum terwujud. Pertandingan kelima, sudah tidak menentukan lagi. Namun, tak menghalangi Gregoria Mariska untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya, sekaligus menimba pengalaman di ajang tersebut. Menghadapi Nitchaon JINDAPO, jelas Gregoria kurang diunggulkan. Secara pengalaman dan rangking Gregoria kalah. Namun, dara asal Wonogiri yang kini berada di rangking 106 mampu memberikan perlawanan sepadan tehadap tunggal nomor 25 dunia itu. Sempat tertinggal di set pertama, pemain yang baru berusia 16 tahun itu mampu memaksa terjadinya rubber set hingga memenangkan laga dengan skor 21-13, 14-21, 20-22. Berat Menjadi runner up grup setelah menyingkirkan Hong Kong dan Bulgaria, membuat Tim Uber Indonesia harus bekerja ekstra keras di delapan besar. Pasalnya peluang untuk bertemu para juara grup terbuka lebar. “Memang hasil ini tidak seperti yang diperkirakan, pertaruhannya di tunggal ketiga, kami memasang debutan dan bisa berhasil. Hasil ini membuat langkah Tim Uber lebih berat, karena di perempat final kami akan bertemu para juara grup,” ungkap Achmad Budiharto, Chef de Mission Tim Thomas dan Uber Indonesia.
Namun, seperti dikatakan Achmad, situasi ini tak bisa dihindari dan harus dihadapi dengan sekuat tenaga. Terlepas dari siapa lawan yang akan ditemui, para Srikandi sejatinya bermain lepas tanpa beban. “Tetapi ini harus kita hadapi, dengan predikat underdog, mudah-mudahan pemain kami bisa tampil lepas,” lanjutnya. Berdasarkan aturan yang diterapkan di ajang beregu ini, ada kemungkinan dua tim yang bertemu di fase grup bertemu lagi di delapan besar. Aturan ini berbeda dengan yang diterapkan pada babak kualifikasi Thomas dan Uber pada bulan Februari lalu. Dengan demikian dari hasil undian ada peluang Indonesia kembali bertemu Thailand. Budiarto yang merupakan Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI menjelaskan, “Tim Uber Indonesia ada kesempatan ketemu Thailand lagi di perempat final dan peluang kami terbuka. Sebetulnya tadi Tiara/Anggia punya kesempatan di game kedua dan ketiga tetapi Tuhan berkata lain.” Sambil menanti siapa lawan yang dihadapi nanti, perjuangan para Srikandi Merah Putih tetap harus diapresiasi. Dukungan dan harapan tetap kita lantunkan, mengiringi langkah mereka di delapan besar. Hasil pertandingan Tim Uber Indonesia vs Thailand (2-3): Maria Febe Kusumastuti vs Ratchanok Intanon 21-14, 21-14 Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari vs Sapsiree Taerattanachai/Puttita Supajirakul 21-14, 21-14 Hanna Ramadini vs Busanan Ongbumrungphan 8-21, 11-21 Tiara Rosalia Nuraidah/Anggia Shitta Awanda vs Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai 21-14, 17-21, 22-24 Gregoria Mariska vs Nitchaon Jindapol 13-21, 21-14, 22-20
Sumber: http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/kalah-tipis-dari-thailand-tim-uber-indonesia-ke-delapan-besar-sebagai-runner-up_573b03650bb0bd260962cdd3



0 komentar:
Post a Comment